MASIGNASUKAv102
5205159268100262409

Senyuman Putri

Selasa, 01 September 2020

 

    Seperti biasa setiap pulang sekolah, Putri akan mampir di panti jompo Ibu Bahagia. Ada saja yang dia bawa untuk diberikan kepada lima nenek penghuni panti jompo sebagai oleh-oleh. Kadang seikat bunga liar yang tumbuh di sepanjang dua kilo meter perjalanannya menuju panti. Pernah juga seonggok daun kering, sebuah mangga yang hampir busuk karena dimakan kalong, seekor burung yang tengah terluka, beberapa butir permen, dan lain-lain.

 

    Siang ini, gadis kecil berusia sepuluh tahun yang selalu tersenyum itu tak membawa apa-apa di tangannya.Putri kini duduk di taman belakang dikelilingi para fans setia. Dari mulutnya keluar cerita seru tentang kejadian di sekolah hari ini.

 

    Putri pandai  sekali merangkai cerita sehingga para nenek itu terpingkal-pingkal dibuatnya. Kadang dia berdiri, lalu tubuhnya memperagakan gerak seorang guru yang sedang marah-marah, temannya yang sedang ketakutan, juga tingkah konyol teman-teman lainnya.

 

    Itulah Putri, gadis kecil yang kutemui sebulan yang lalu saat menepi di teras panti karena hujan deras. Kutawarkan dia masuk dan selembar handuk. Matanya langsung berbinar ketika melihat lima nenek penghuni panti ini tengah duduk bersama menikmati rinai hujan dari teras belakang. Dia langsung menyapa dan bertanya banyak hal. Mereka pun langsung akrab seolah teman yang lama tidak bersua. Bahkan ketika dia pamit pulang, nenek-nenek itu memintanya untuk sering datang kemari.

 

    Putri lalu meminta ijin dariku untuk sering-sering mampir disini. Tentu saja aku ijinkan. Entah mengapa aku pun langsung jatuh hati pada gadis itu. Gadis polos yang murah senyum, ramah, ceria, juga penuh semangat.

 

    Sejak saat itu, setiap hari setelah pulang sekolah dia akan singgah disini. Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit. Selain untuk beristirahat, juga untuk menemui penghuni panti. Putri telah membawa warna baru untuk kehidupan kami disini. Kami selalu merindui kedatangannya. Jika hari minggu, nenek-nenek itu selalu menanyakannya. Maka, aku yang akan sibuk mengarang cerita agar mereka lupa. Awalnya terasa sangat kaku. Namun, lama-lama aku bisa menirukan Putri bercerita. Walau tetap saja, aku tak selucu Putri saat bercerita, kata mereka.

 

    “Kakak aku pulang, ya,” pamitnya setelah selesai bercerita.

 

    “Yakin nih, enggak mau makan dulu?” tanyaku seperti biasa. Tapi jawabannya sudah bisa ditebak. Dia tidak pernah mau menerima pemberian kami dalam bentuk apapun, kecuali segelas air putih.

 

    “Aku buru-buru, Kakak.” Putri meraih tanganku, lalu menciumnya.

 

    “Hati-hati, Sayang.” Kuelus ubun-ubunya lalu menciumnya.

 

    Dia bergegas berlari melanjutkan dua kilo lagi perjalanan menuju rumahnya. Hmm... bukan rumah menurutku. Lebih tepat tempat persinggahannya juga. Karena tujuan berikutnya adalah sebuah rumah makan milik pamannya. Dimana dia harus bekerja membantu usaha adik ayahnya itu, hingga larut malam nanti. Rumahnya dulu nun jauh disana, di seberang pulau.

 

    Kedua orang tuanya telah tiada sejak dia masih bayi. Dia diasuh neneknya hingga umur sepuluh tahun. Ya, dua bulan yang lalu sang nenek telah berpulang, meninggalkannya seorang diri.  Itulah mengapa dia dibawa ke kota ini oleh sang paman. Untuk tetap bertahan hidup dan sekolah, Putri harus bekerja seperti pegawai rumah makan pamannya yang lain.

 

    Cerita itu baru kudapat beberapa hari yang lalu. Bukan dari mulut Putri yang selalu tersenyum bahagia. Dia memang tidak pernah bercerita siapa dirinya dan bagaimana kesehariannya. Kecuali, cerita tentang sekolah dan kisah-kisah lainya yang selalu dibawanya sebagai oleh-oleh untuk menghibur kami.

 

    “Kata Pak Ustad, setiap muslim harus beramal baik selama hidup di dunia. Bersedekah termasuk beramal baik, kan, Kak? Karena aku belum punya apa-apa sekarang, aku cukup berbagi senyum saja, Kak. Sedekah yang paling murah,” katanya malu-malu ketika suatu hari kutanya mengapa dia selalu tersenyum.

 

    “Masyaallah! Sedekahmu banyak sekali, Sayang. Kakak selalu melihatmu tersenyum, lho!” kataku takjub.

 

    “Alhamdulillah, semoga jadi berkah, ya, Kak. Kalau berkah, kan aku akan nambah semangat beribadah dan beramalnya.”  

 

    Speechless aku mendengar jawabannya. Gadis sekecil ini bisa menyerap arti sedekah sedemikian dalamnya. Setiap ucapannya selalu saja membuatku terkesima sekaligus malu. Sementara jalan cerita kehidupan yang kudengar tentangnya, selalu saja membuatku sesak dan berurai air mata. Namun, sedikitpun tidak kulihat kesedihan di matanya. Dia justru berusaha memberikan senyum terbaik dan membuat kami selalu tersenyum bahagia melalui ceritanya.  

 

    “Ayah bundamu pasti bangga, Nak.”

 

    “Insyaallah, Kak. Aku selalu berusaha membuat mereka bangga, bagaimanapun caranya!” ucapnya penuh semangat dengan binar mata yang menyala. Mungkin dia sangat yakin, masa depannya kelak akan secerah senyum yang selalu tersungging dibibir.